Hindari Pencurian Data Pribadi, Pakar Sarankan Bijak Bersosial Media

Jakarta, Selular. ID – Belakangan ini banyak bermunculan berita mengenai bocornya data pribadi masyarakat Indonesia yang berasal dari berbagai situs seperti e-commerce. Terakhir juga ada dugaan bocornya bukti pribadi yang diduga berasal daripada operator telekomunikasi.

Terkait kasus yang terakhir ini, sejak tampilan yang beredar di sosial media, menurut analisa sementara yang dilakukan ahli digital forensik Ruby Alamsyah, gambar tersebut seolah-olah adalah tampilan teknis dari sebuah akses remote ke sebuah server operator seluler untuk menampilkan data pengguna operator telekomunikasi.

“Menurut saya apa yang ditampilkan tersebut bukan merupakan gambaran teknis yang benar-benar diambil dari sebuah peladen yang terdapat data pelanggan operator telekomunikasi. Kalau memang benar teknis, pasti jejak digitalnya banyak serta bisa kita lacak dengan semoga, ”terang Ruby.

Ruby menduga data yang ditampilkan seolah-olah asli tersebut merupakan data yang bisa saja diambil dan dikombinasikan dengan kebocoran-kebocoran data yang selama ini sudah terjadi. Kebocoran tanda, NIK dan No KK mampu didapatkan dari banyak sumber. Apalagi data pribadi KPU pernah murus.

“Bisa jadi data-data tersebut berasal dari medsos target dan ditampilkan oleh pelaku jadi seolah-olah berasal dari server operator tertentu. NIK dan No KK bisa didapat dari kebocoran bahan KPU. No HP bisa pada dapat dari no WA agregasi, ”terang Ruby.

Seolah-olah kita ketahui bersama data awak masyarakat Indonesia kerap dilaporkan bocor dan dapat ‘diintip’ oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Beberapa laporan kebocoran tersebut berasal lantaran penyedia layanan belanja online, ojek daring bahkan Daftar Pemilih  Tentu (DPT)  yang ada di KPU.

Selain adanya kebocoran data pribadi dari penyelenggaraan pembicaraan elektronik, kerap kali masyarakat tak sadar telah menyerahkan data pribadnya kepada pihak lain. Seperti kala mengajukan kredit atau memfotocopy KTP dan KK. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat memanfaatkan ketidak mengertian masyarakat tersebut dalam membentengi data pribadinya.

Lanjut Ruby, untuk jenis HP dengan ditampilkan pelaku, menurutnya mudah untuk ditelusuri dan didapatkan. Ketika orang mengakses situs tertentu, seorang dengan mengerti digital bisa mengetahui jenis ponsel yang dipergunakan. Sehingga bukan perkara sulit untuk mengetahui macam ponsel dan software yang dipergunakan.

“Lebih mudah teristimewa jika korban pernah install aplikasi seperti fintech ilegal. Semua masukan bisa diambil oleh fintech itu. Bahkan data IMEI, operator dengan digunakan jejak kunjungan, daftar relasi dan bahkan chat kita dalam media sosial bisa didapatkan secara mudah oleh orang yang tak bertanggung jawab tersebut. Saya lihat data yang ditampilkan itu sedang terlalu umum. Justru kesan yang saya tangkap dari yang ditampilkan itu merupakan data yang rapih dan jadi yang diperuntukkan buat tujuan tertentu. Padahal data dengan dimiliki operator hanya data teknis yang terkait telekomunikasi, ”ujar Ruby.

Dari pengalaman yang dimiliki Ruby, jika data dengan berasal dari operator, akan lebih kompleks dan rumit. Data tersebut sejatinya tidak dibutuhkan oleh karakter awam yang tidak memiliki kebutuhan teknis telekomunikasi. Contohnya untuk lokasi, data yang dimiliki operator cuma koordinat. Bukan alamat lengkap. Namun gambar yang beredar di jalan sosial yang diduga berasal daripada pelaku merupakan data sangat umum.

“Yang membuat cukup pintar. Bisa memanipulasi dan mengumpulkan beberapa data yang selama ini sudah bocor terlebih dahulu serta dibuat seolah-olah data teknis yang berasal dari server tertentu. Real itu bukan. Latar belakang hitam atau hijau bisa dibuat dengan mudah, ”ungkap Ruby.

Agar masyarakat terhindar dari penyalahgunaan data pribadi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, ahli digital forensik ini menyarankan agar bangsa bijak menggunakan sosial media. Kalau ingin memposting di media sosial, pastikan konten tersebut bukan termasuk dalam ranah pribadi. Jangan pernah mencantumkan data pribadi kita dalam sosial media.

“Justru kita bangga jika kita memposting di media sosial lokasi kita dan jenis HP yang kita pergunakan dalam foto yang akan kita posting. Itu merupakan kecacatan yang fatal yang bisa dipergunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menggunakan data pribadi kita, ”jelas Ruby.

Masukan Ruby selanjutnya, ketika hendak memposting foto di media sosial, disarankan foto dan dokumen tersebut pada convert. Tujuannya untuk mengubah sombong yang ada di foto atau dokumen tersebut. Jadi foto serta dokumen yang dikirimkan ke jalan sosial tersebut bukan asli daripada HP. Jika asli dari HP maka meta data yang ada informasi seperti lokasi, jenis HP, software yang dipakai, operator yang dipergunakan dan berapa mega pixel kamera yang dipergunakan, dapat dengan mudah untuk dibaca.

“Para pihak yang tak bertanggung jawab dapat melihat meta keterangan dari foto yang kita up load di sosial media secara sangat mudah. Jadi kalau mau memposting foto pastikan meta keterangan berubah. Ketika kita mengirim foto melalui FB dan WA, seluruh data tersebut sudah hilang. Karena WA dan FB melakukan modifikasi sehingga bukan foto asli yang ditampilkan, ” ungkap Ruby.

Selain itu Ruby pula menyarankan agar pemerintah dapat lekas menyelesaikan RUU Perlindungan Data Pribadi. Dengan adanya UU Perlindungan Data Pribadi, penegakkan hukum akan lebih tepat. Sehingga dapat membuat insaf para pelaku pencurian data karakter. Saat ini Indonesia hanya mempunyai UU ITE. Dalam UU ITE, pencurian data pribadi melalui pengelola transaksi elektronik hanya delik perlawanan.

“Karena delik perlawanan maka tidak ada lembaga yang mau melaporkan pencurian data pribadi pelanggannya ke polisi. Lapor ke polisi berarti mengakui adanya petunjuk bocor, ”pungkas Ruby.