Penelitian Dell Technologies: 62% Kongsi di Indonesia Belum Jadi Bertransformasi Digital

Jakarta, Selular. ID – Dell Technologies mengumumkan buatan riset global yang disponsori perusahaan dan dilaksanakan oleh Forrester Consulting. Bertajuk Digital Transformation Index, riset itu menunjukan bahwa sebagian gede perusahaan di Indonesia kewalahan menangani perkembangan data yang sangat cepat. Riset itu dipicu oleh besarnya bagian, kecepatan, dan ragam bukti yang membanjiri perusahaan, teknologi, sumber daya manusia, serta proses.

Penelitian Data Paradoks melibatkan responden lebih dari 4. 000 pembuat keputusan dari 45 negara. Penyusunannya riset itu berdasarkan tingkat kesiapan digital perusahaan-perusahaan di seluruh negeri. Dalam riset Digital Transformation Index terbaru, Dell Technologies menemukan faktor kontradiksi tentang kelebihan data atau ketidakmampuan mengolah data menjadi wawasan adalah menjadi penghambat alterasi ketiga terbesar di negeri.

Menyuarakan juga: Dell Siap Mendatangkan Laptop Terbarunya Awal Tarikh

Hasil penelitian Digital Transformation Index tersebut menemukan tiga fakta yang sering dihadapi perusahaan di dalam pengelolaan data sehingga menghambat transformasi digital.

1. Perbedaan/Paradoks Persepsi

Tercatat, 88% perusahaan di Nusantara belum menunjukkan kemajuan, indah dari sisi teknologi pemrosesan data dan kemampuan itu mengelola data. Inilah dengan menjadi penyebab utama terhambatnya transformasi digital perusahaan pada Indonesia.

Sekitar 62% perusahaan di Indonesia masih jauh dari bahan transformasi digital mereka. Hanya 12% perusahaan di Indonesia yang masuk dalam bagian Data Champion. Sekedar informasi, Data Champion merupakan perusahaan-perusahaan yang secara aktif berperan di teknologi pemrosesan petunjuk dan memiliki kemampuan menamsilkan data.

Menyuarakan juga: Vendor Smartphone Menggempur Pasar Laptop Tanah Minuman 2021

2. Paradoks “Ingin Lebih Dari yang Bisa Mereka Kelola”

Riset ini menemukan 72% perusahaan di Indonesia menyiapkan data lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk menganalisa dan menggunakannya. Tapi 67% menyatakan mereka tetap membutuhkan lebih banyak data daripada kemampuan yang mereka miliki saat ini.

Paradoks ini mungkin terjadi karena 58% perusahaan di Indonesia menyimpan mayoritas petunjuk di pusat data dengan mereka miliki atau kelola sendiri. Meskipun mereka terang manfaat dari pemrosesan masukan di edge (tempat data dihasilkan).

“Ketika perusahaan di bawah tekanan besar untuk melakukan Transformasi Digital untuk mempercepat layanan pada pelanggan, mereka harus mendapatkan lebih banyak bahan dan harus bisa menjalankan data yang mereka miliki dengan lebih baik. Terlebih saat ini, dimana 38% perusahaan di Indonesia membuktikan bahwa pandemi secara istimewa telah meningkatkan jumlah data yang perlu mereka kumpulkan, simpan, dan Analisa. Buat menjadi sebuah perusahaan yang fokus pada data (data-driven) adalah sebuah perjalanan, & mereka akan membutuhkan arahan dalam perjalanan tersebut, ” ujar Richard Jeremiah, General Manager, Dell Technologies, Nusantara disela acara Media Briefing Riset Data Paradoks Dell Technologies

3. Paradoks “Melihat Tanpa Bertindak”

Dalam 18 bulan belakang, sektor on-demand berkembang pesat, memicu gelombang baru usaha yang menerapkan data-pertama (data-first) dan data-dari-manapun (data-anywhere). Sekitar 12% perusahaan di Nusantara telah mengalihkan sebagian gembung aplikasi dan infrastruktur TI mereka ke model as-a-Service.

Perusahaan pada Indonesia (65% ) melihat peluang untuk mengembangkan ataupun mengubah permintaan konsumen. Selanjutnya Model on-demand akan membantu 81% perusahaan di Nusantara yang saat ini sedang menghadapi salah satu ataupun semua hambatan berikut buat bisa mengumpulkan, menganalisis, dan mengambil keputusan yang berbasis data dengan lebih jalan.